Profil pengusaha muda sukses : Nanang Syaifurozi (Rumah Warna )

17 Mar

MODAL dan pengalaman, bagaikan hantu dalam dunia bisnis bagi pemula. Tanpa modal besar dan pengalaman yang memadai, seakan-akan tak bisa memulai langkah. Benarkah demikian ? Bagi Nanang Syaifurozi (30) dan Ane Yarina Christi (28), alasan tersebut pasti akan ditolak mentah-mentah. Sebab pasangan muda suami isteri tersebut mengawali usahanya hanya dari hobi dan modal Rp 20 ribu. Tapi kini omzetnya mencapai miliaran rupiah per bulan.
Nanang dan Ane tak pernah menyangka hobi mereka berdua semasa masih pacaran di bangku kuliah pada tahun 2000 menuntun jalan rezekinya. Awalnya mereka hanya menuruti kesukaan membuat pernak-pernik dari kertas, seperti bingkai (frame) foto. Hasilnya pun hanya untuk hiasan dinding kamar kos. Setelah itu iseng-iseng dijual ke temannya.
Karena laku, Nanang dan Ane pun tuman. Dengan modal Rp 20 ribu mereka membeli kertas, gunting, cutter dan lem untuk membuat frame foto lebih banyak lagi. Hasilnya dijajakan di bazar Minggu pagi di kawasan kampus UGM. “Saya jual Rp 7.000 perbuah. Laku satu saja rasanya senang banget,” ujar Nanang ketika dijumpai KR di tempat usahanya ‘Rumah Warna’ di Jalan Pandega Asih Ringroad Utara Caturtunggal Depok Sleman suatu siang.
Dengan telaten, jualan di pinggir jalan tersebut mereka lakoni hingga lebih dari satu tahun. Sejalan dengan itu mereka terus berkreasi dengan membuat aneka produk kreatif. Tak hanya sebatas bingkai foto, mereka merambah pula berbagai pernak-pernik kebutuhan remaja putri. Di tengah jalan, rintangan kecil mulai muncul. Orang tua Nanang yang mengetahui sepak terjang anaknya tersebut rupanya tak bisa menerima.
“Orang tua menentang karena ingin saya berkonsentrasi kuliah. Beliau berharap saya bisa kerja kantoran setelah lulus. Dan tidak ingin nasib saya sama seperti orang tua saya yang kesehariannya hanya jualan warung kelontong. Tapi saya tetap jalan terus pada pilihan saya. Karena saya yakin bisnis ini berprospek bagus,” kisah alumni D-3 Broadcasting UGM ini.
Kendati demikian Nanang bisa membuktikan keyakinannya dengan berhasil lulus pada tahun 2002. Setelah lulus, lagi-lagi Nanang melakukan sesuatu yang membuat orang tuanya kurang berkenan. Karena pada tahun 2002 itu juga Nanang nekat ingin menikahi Ane, adik kelasnya di kampus. Padahal mereka berdua belum memiliki pekerjaan mapan, bahkan masih dalam usia cukup muda 23 tahun.
“Prinsip saya, penghasilan kami berjualan pernak-pernik kreatif saat itu sudah cukup untuk makan sehari-hari. Karena tekad kami ingin menikah begitu kuat, akhirnya orang tua saya mengizinkan. Itupun nggak pakai ramai-ramai, asal sah di KUA. Bahkan teman-teman kos pun tidak ada yang tahu. Karena setelah menikah kami masih tetap kos sendiri-sendiri,” ujar pria muda kelahiran Banjarnegara Jateng 18 September 1979 ini.
Setelah menikah Nanang merasakan pintu rezekinya kian terbuka. Perubahan besar terjadi ketika dia menggelar karyanya pada salah satu stand di Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) tahun 2002. Usai FKY pesanan dari luar negeri membanjir. Awalnya dari Yunani yang memesan 10.000 pigura senilai Rp 43 juta. Lalu disusul dari Jepang, Spanyol, Perancis, Amerika Serikat dan Jerman.
Mulai saat itu ia merekrut karyawan meskipun hanya sebatas teman-temannya sendiri. Dalam mengembangkan produk, Nanang membidik pasar remaja putri. Saat itu produk yang sedang booming adalah frame dari kertas daur ulang. Namun ia tak mau latah. Justeru ia melihat belum banyaknya produk kreatif yang colourfull sesuai kesukaan cewek ABG.
Beranjak dari situ, tahun 2004 Nanang dan Ane mulai membuat produk yang dibuat dengan jahit-menjahit. Seperti dompet, tas, kantong handphone, bed cover dan sprei, namun tetap dengan konsep colourfull atau warna-warni. Kreativitas Nanang dan Ane pun diterima dengan baik oleh masyarakat. Karya demi karyanya terus mengalirkan rupiah.
“Awalnya memang tak mudah. Ketika saya butuh modal untuk mengembangkan usaha, masih dipandang sebelah mata oleh bank. Memang sulit mencari pinjaman ke bank bagi pebisnis pemula. Tapi sekarang setelah sukses, bank-bank berdatangan menawarkan pinjaman,” tutur Nanang.
Kerja keras hampir tujuh tahun telah bisa dinikmati hasilnya saat ini. Untuk terus mengembangkan usahanya, Nanang dan Ane membuka sistem franchise. Kini setidaknya telah ada 10 cabang franchise ‘Rumah Warna’ yang tersebar di wilayah Jawa, Kalimantan dan Kalimantan. Dari kesepuluh franchise ditambah dengan dua cabang miliknya sendiri, ‘Rumah Warna’ mampu membukukan omzet tak kurang dari Rp 1 miliar per bulan.
Kesuksesan tersebut tak lantas membuat pasangan pengusaha muda ini lupa diri. Bagi Nanang dan Ane, prinsip give and take selalu menjadi pegangan hidup. Keuntungan hasil usaha selalu disisihkan untuk diberikan kepada mereka yang nasibnya kurang beruntung. “Selalu memberi dulu, baru menerima dalam hal apapun,” tandas Nanang.

(sumber : blognya Aksan Susanto)

“Kita harus dapat meniru kegigihan Nanang Syaifurrozi yang ketika usia mudanya sudah merintis usaha dari kecil hingga sukses sekarang ini.Dia mampu membaca peluang bisnis dengan ide2nya yang kreatif.


About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: